Nestapa Taman Olah Seni Yang Dipenuhi Semak Belukar 

190

Lampung Utara jejaring09.com — Dahulu, ia adalah menjadi tempat kreativitas para pelaku seni. Tempat di mana gema tepuk tangan penonton bertemu dengan semangat para seniman lokal.

Kini, Taman Olah Seni (TOS) tak lebih dari sekadar monumen kesunyian yang perlahan “ditelan” oleh alam yang liar. Panggung utama TOS saat ini sering digunakan para penari untuk berlatih.

Disekiling panggung dan sekitar bukan lagi karya seni yang menyambut pengunjung, melainkan jalinan semak belukar yang menjalar hingga ke sela-sela panggung utama. Apalagi dibagian belakang panggung, Rerentuhan atap dan sampah-sampah liar berserakan.

Kondisinya kini memprihatinkan, seolah-olah waktu telah berhenti berputar di kawasan ini, sementara di sekitarnya terdapat gedung megah yakni Gedung Perpustaan daerah.

Kondisi saat ini TOS terancam hilangnya terutama Ruang Ekspresi. Saat saya berada didalam taman menyaksikan para penari Bedayo Abung Siwo Migo disambut oleh ilalang setinggi dada orang dewasa. Kiri kanan panggung dipenuhi rumput ilalang.

Selain itu, Bangunan pendukung lainnya seperti Kamar Mandi dindingnya penuh dengan coretan  yang tak beraturan, jauh dari kesan artistik yang seharusnya diusung tempat ini.

“Dulu tahun 2000 an tempat ini sering dijadikan tempat para musisi bermain musik, latihan teater. Sekarang? Mau masuk takut ada ular di balik semak belukar itu,”

Ketidakterawatan ini bukan sekadar masalah estetika. Bagi warga sekitar, Taman Olah Seni yang rimbun oleh semak belukar telah berubah menjadi sarang binatang melata dan nyamuk.

Ironisnya, di tengah minimnya ruang publik yang layak, satu aset berharga justru dibiarkan membusuk. Padahal, jika dikelola dengan baik, TOS bisa menjadi magnet ekonomi kreatif bagi anak muda dan pelaku UMKM.

Ibarat ‘ Nyawa ‘ Taman Olah Seni kini sedang berada di titik ‘Sakaratul maut’. TOS tidak butuh janji renovasi di atas kertas, melainkan aksi nyata untuk menebas belukar yang membelitnya.

BACA JUGA:  Gubernur Lampung Hadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2020

Menurut saya, Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin identitas kota sebagai pusat budaya akan ikut terkubur bersama semak belukar disekeliling taman.

Saya bertanya, Apakah kita akan membiarkan kreativitas para pelaku seni ‘Mati’ di rumahnya sendiri?

Penulis : Sodikin

Facebook Comments