Angken Muaghei, Pangdam XXI/Radin Inten, Kristomei Sianturi Kini Menjadi Darah Daging Abung Siwo Migo

99
Oplus_131072

LAMPUNG UTARA, jejaring09.com – Persaudaraan di tanah Lampung bukan sekadar basa-basi seremonial. Hari ini, Kamis (9/7/2026), tradisi Angkon Muakhi membungkam segala sekat suku dan latar belakang. Pangdam XXI/ Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, secara resmi disahkan menjadi saudara dalam keluarga besar masyarakat adat Lampung, khususnya masyarakat adat Abung Siwo Migo.

Prosesi sakral yang digelar di kediaman Ansori Sabak (Suttan Rajo Putra Negara), Jalan Teratai, Kelapa Tujuh, Kotabumi, ini bukan hanya ritual adat biasa. Ini adalah sebuah deklarasi bahwa tanah Lampung mengakui mereka yang berdedikasi sebagai putra daerah, melampaui batas genealogi.

Dalam rangkaian prosesi Megawo Adat dan Turun Mandei, Mayjen TNI Kristomei Sianturi resmi diterima sebagai warga adat Pungguk Lama. Ia dianugerahi gelar adat Raja Satria Negara (Megawo Adat) dan Pangeran Satria Negara (Turun Mandei). Sang istri, Desi Asti Megasari, turut dinobatkan sebagai Ratu Ibu Pertiwi.

Gelar tersebut disematkan langsung oleh Ansyori Sabak, Suttan Rajo Putra Negara. Bagi Ansyori, penobatan ini adalah penegasan posisi Kristomei yang meski memiliki latar belakang suku Batak, namun darah dan jiwanya telah melebur bersama bumi Lampung Utara.

“Beliau adalah aset daerah. Meski berasal dari suku Batak, perjalanan hidupnya menjadikan beliau bagian tak terpisahkan dari masyarakat adat Lampung. Ini adalah sejarah bagi anak cucu kita; keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu,” tegas Suttan Rajo Putra Negara dengan nada yang menghentak.

Menerima gelar tersebut dengan penuh haru, Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengungkapkan ikatan batin yang tak terbantahkan. Bagi sang Pangdam, gelar ini adalah legalitas atas memori masa kecilnya di Lampung.

“Air yang pertama kali saya minum adalah air Lampung Utara. Dengan gelar adat ini, ikatan batin yang selama ini saya rasakan akhirnya memperoleh pengakuan secara formal,” tuturnya.

BACA JUGA:  METRO -dr.Wahdi Sirajuddin,Sp.OG kunjungi Pengurus Daerah IWO Kota Metro dalam rangka kepedulian dirinya kepada rekan-rekan media online dengan memberikan bantuan sembako jelang hari raya idul Fitri 1441/H 2020 di Sekretariat Jl.Mayjen Ryachudu No.34, Rabu (20/05).

Di sisi lain, Tokoh adat Pungguk Lama, Ibnu Hajar (Suttan Guttei Sang Rateu), memberikan pengingat tajam. Baginya, Angkon Muakhi bukan sekadar status sosial. “Ketika seseorang diangkat menjadi saudara, ia memikul tanggung jawab moral yang besar: menjaga nama baik keluarga besar adat dan memperkokoh keharmonisan masyarakat,” tegasnya.

Suasana semakin khidmat saat prosesi Sewarei atau penguatan hubungan persaudaraan dilakukan. Pangeran Satria Negara (Kristomei Sianturi) secara resmi mengukuhkan ikatan saudara dengan tokoh-tokoh kunci di Lampung, mulai dari Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Suttan Tihang Negara), Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, hingga mantan Bupati Lampung Tengah Mustofa, dan Ketua BEM U KBM Unila, Aditiya Putra Bayu.

Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis (Pangeran Dewantara), yang hadir bersama Forkopimda dan para penyimbang adat, mengapresiasi langkah ini sebagai jangkar pelestarian warisan leluhur.

Rangkaian sakral ini akan ditutup dengan prosesi Turun Mandei di Obyek Wisata Pasir Putih, Lampung Selatan, Sabtu (11/7/2026). Sebuah simbol nyata bahwa persaudaraan yang terjalin di Kotabumi ini akan terus meluas, mempererat harmoni, dan menjaga marwah bumi Lampung hingga generasi mendatang. (Red).

Facebook Comments