Dibalik Rp 6,5 Miliar, Taman Olah Seni Lampung Utara Kini Jadi ‘Hutan’ di Tengah Kota. Disparbud Terkesan Tutup Mata

470

Lampung Utara jejaring09.com – Taman Olah Seni (TOS) Kotabumi adalah tempat bagi kreativitas. Di sana, gema tepuk tangan penonton berkelindan dengan semangat membara para seniman lokal yang memamerkan karya.

Namun hari ini, kejayaan itu sirna. TOS tak lebih dari sekadar monumen kesunyian yang perlahan “ditelan” alam liar. Pantauan di lokasi Senin (13/4/2026) menunjukkan pemandangan yang menyayat hati. Alih-alih karya seni yang menyambut pengunjung, kini jalinan semak belukar tumbuh subur hingga menjalar ke sela-sela panggung utama.

Kondisi ini kian miris saat bergeser ke bagian belakang panggung, dimana reruntuhan atap dan sampah liar berserakan, menciptakan kesan kumuh yang mendalam.
Kondisi memprihatinkan ini seolah menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Daerah. Pasalnya, tepat di samping “hutan” belukar tersebut berdiri megah Gedung Perpustakaan Daerah yang modern.

Ketidakterawatan ini menimbulkan tanda tanya besar terkait kinerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lampung Utara sebagai instansi penanggung jawab. Dinas terkait terkesan tutup mata, padahal kondisi ini sudah berlangsung lama.

Ironisnya, berdasarkan data yang dihimpun, Disbudpar mengelola anggaran yang tergolong fantastis, yakni mencapai Rp 6,4 miliar, Publik pun mulai mempertanyakan kemana larinya anggaran tersebut, sementara satu-satunya ruang ekspresi seni di Lampung Utara dibiarkan membusuk tanpa sentuhan pemeliharaan.

Fasilitas pendukung di kawasan TOS juga tak luput dari kerusakan. Kamar mandi yang seharusnya menjadi fasilitas vital kini dipenuhi coretan yang tak beraturan dan jauh dari kesan artistik yang seharusnya diusung tempat ini.

“Dulu tahun 2000-an, tempat ini hidup. Musisi main musik di sini, anak teater latihan tiap sore. Sekarang, Orang mau masuk saja takut, khawatir ada ular di balik semak belukar itu,” ujar salah satu warga sekitar. Senin (13/4/2026).

BACA JUGA:  Besok PWI Lampung Utara Berbagi 1000 Takjil dan Buka Puasa Bersama

Kini, ketidakterawatan ini bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan ancaman keamanan bagi warga sekitar. Rimbunnya semak belukar telah berubah menjadi sarang binatang melata dan nyamuk, mengancam kesehatan masyarakat di jantung kota Kotabumi.

Sangat disayangkan, di tengah minimnya ruang publik yang layak bagi pemuda, aset berharga ini justru dibiarkan sekarat. Padahal, jika dikelola dengan serius, TOS memiliki potensi besar untuk menjadi magnet ekonomi kreatif bagi anak muda dan pelaku UMKM lokal. (Diq).

Facebook Comments