Lika – Liku Sastra Sudadi Delapan Tahun Manjadi Wartawan

448

Profesi wartawan sering kali menjadi tantangan tersendiri dan menjadi kisah cerita yang penuh risiko. Pada saat Saya bertemu dan mewawancarai seoarang wartawan benama Sastra Sudadi, dia seorang ayah yang tinggal di Kelurahan Tanjung Aman Kecamatan Kotabumi Selatan Lampung Utara telah menjalani profesi ini selama delapan tahun.

Bagi pria kelahiran Lampung Barat, 13 Desember 1983, menjadi jurnalis bukan sekadar mencari nafkah, melainkan menjalankan misi mulia. Menurutnya profesi wartawan ini diibaratkan sebuah kartu Joker yang bisa masuk dan berteman dengan siapa saja.

Menjadi wartawan memang sudah menjadi cita-citanya. Sebelumnya dia pernah bekerja dan bergabung si sebuah perusahaan finance di wilayah Kabupaten Lampung Barat.

Menurut dia, wartawan adalah sebuah lompatan besar setelah dirinya tidak lagi bekerja di perusahaan Finance. Menurutnya lagi, naluri seorang wartawan untuk menyuarakan kebanaran ternyata lebih kuat.

Selama menjadi wartawan, Sastra sudah merasakan pahit manisnya profesi yang ia cintai. Ia telah menyaksikan berbagai peristiwa, mulai dari kebijakan daerah hingga penderitaan rakyat kecil.

Di kecamatan Hulu Sungkai misalnya, menurut dia hal ini merupakan salah satu babak paling menegangkan dalam perjalanan profesinya sebagai wartawan. Dimana saat ia melakukan menginvestigasi adanya dugaan pungutan liar (Pungli) dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Kecamatan Hulu Sungkai.

“Masyarakat harus tahu, program ini harusnya meringankan, bukan memberatkan. Fakta dilapangan ada praktik yang tidak benar, dan itu harus kami angkat,” ujar Sastra.

Namun, keberaniannya hampir menjadi berbuah petaka. Saat berita tersebut mulai naik ke permukaan dan pada saat berada di lapangan Sastra berada dalam situasi yang sangat berbahaya.

“Waktu itu, ketegangan sangat terasa. Saya hampir dikepung oleh sekelompok masyarakat yang terprovokasi. Situasinya benar-benar mencekam. Saya harus bernegosiasi, menjelaskan, dan mencari jalan keluar agar berita tetap terbit dan kami bisa selamat,” ceritanya.

BACA JUGA:  Kunjungan Kerja Ke Kabupaten Lampung Utara, Gubernur Arinal Djunaidi Minta ASN Menjadi Panutan Masyarakat

Beruntung pada saat itu dirinya tidak sendiri melainkan bersama dengan aparat kepolisian sehingga apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Pengalaman ini menjadi pengingat keras bahwa mencari kebenaran sering kali membawa risiko akan terjadinya kekerasan fisik.

Meski demikian, kejadian itu tidak menyurutkan semangat sosok ayah bagi seorang putri yang menjadi penyemangat dalam hidupnya. Dukungan keluarga adalah benteng terkuat yang membuatnya tetap menjalankan profesi mulia ini.

Sastra Sudadi menegaskan bahwa profesi wartawan, dengan segala liku-likunya, adalah profesi yang mulia.
“Wartawan itu mata dan telinga masyarakat. Kami yang menjembatani informasi. Kami yang mengontrol kekuasaan. Kalau kami berhenti bersuara karena takut ancaman, siapa yang akan menyuarakan kebenaran,” katanya dengan nada semangat.

Menurutnya, kemuliaan itu berada pada keberanian untuk sebuah kebenaran, dengan banyak menanggung risiko yang berat guna memastikan bahwa informasi yang tersampaikan merupakan informasi yang utuh dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sastra Sudadi adalah contoh nyata seorang jurnalis lapangan yang berpegang teguh pada prinsip, terus berburu berita. Dan percaya bahwa setiap ketikan hurufnya adalah sumbangan kecil bagi terciptanya masyarakat yang lebih transparan dan adil.

Penulis : Sodikin

Facebook Comments