Di tengah riuhnya era modern, di mana standar kesuksesan sering kali disandingkan dengan tumpukan materi, ada sebuah oase kemanusiaan yang tumbuh subur di tanah Lampung Utara.
Ia bukanlah sosok yang mencari panggung, melainkan pribadi yang memilih jalan sunyi untuk menjadi pelita bagi mereka yang membutuhkan. Dialah dr. Endang Sulistiawati, seorang dokter yang bagi warga Lampung Utara lebih dari sekadar penyembuh. Endang adalah sosok Dokter Teladan yang menjaga marwah sumpah profesinya dengan sepenuh hati.
Perjalanan dr. Endang bukanlah lintasan lurus yang mudah. Setelah menuntaskan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta pada tahun 2007, ia menolak untuk terjebak dalam gemerlap kota besar. Ia memilih pulang ke Kotabumi, tanah kelahirannya, dengan tekad yang bulat.
Langkahnya dimulai dari titik terendah. Ia pernah menjadi Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dengan honor yang jauh dari kata cukup, namun semangatnya tak pernah surut. Ketulusan itu akhirnya membawanya menjadi PNS pada tahun 2008, dan sejak saat itu, Puskesmas Wonogiri menjadi rumah kedua sekaligus medan pengabdiannya selama belasan tahun.
Bagi dr. Endang, jam kerja bukanlah batas pengabdian. Panggilan kemanusiaan justru sering datang saat malam telah larut, ketika pintu rumahnya diketuk oleh warga yang panik, atau melalui dering ponsel yang memecah keheningan malam. Sejauh apa pun jaraknya, seberat apa pun rasa kantuk yang mendera, ia tidak pernah menolak.
Sering kali, ia meluncur membelah kegelapan sendirian dengan sepeda motornya, atau dibonceng sang suami, semata-mata demi memastikan pasien mendapatkan pertolongan darurat. Menariknya, di balik dedikasi yang luar biasa ini, tidak ada tarif yang ia pasang. Prinsipnya tegas dan sederhana.
” tugas saya adalah menyembuhkan dan menenangkan. Urusan kesembuhan itu milik Yang Maha Kuasa, dan ilmu yang saya miliki adalah titipan-Nya untuk menolong, bukan untuk menimbun harta.” kata Endang.
Sikap keikhlasan dr. Endang sering membuat warga terenyuh. Banyak keluarga pasien mencoba menyisipkan uang sebagai tanda terima kasih, namun dengan senyum yang lembut dan tutur kata yang santun, ia selalu menolaknya. Baginya, gaji sebagai abdi negara dan kecukupan bersama keluarga sudah lebih dari cukup untuk disyukuri. Ia tidak ingin biaya menjadi dinding pemisah bagi masyarakat prasejahtera untuk mendapatkan hak kesehatan yang layak.
Rekam jejaknya pun bukan main-main. Kepercayaannya melampaui batas daerah, ia pernah mengemban amanah sebagai tim medis pendamping haji di Tanah Suci dan hingga kini masih aktif mengawal kesehatan para pemuda terpilih sebagai dokter PPPK Paskibraka Lampung Utara.
Kisah dr. Endang Sulistiawati adalah tamparan sekaligus pengingat bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa menjadi seorang dokter bukanlah tentang status sosial yang tinggi atau jas putih yang mentereng. Inti dari ilmu medis adalah kemanusiaan. Kehormatan tertinggi seorang dokter bukanlah terletak pada seberapa besar materi yang dikumpulkan, melainkan seberapa dalam ia mampu menyatu dengan denyut nadi penderitaan masyarakat.
Kebaikan dr. Endang tidak perlu diteriakkan untuk didengar, ia telah menggema melalui doa-doa tulus warga Lampung Utara yang melangit setiap kali sang dokter selesai menjalankan tugasnya. Di tanah ini, dr. Endang telah membuktikan satu hal bahwa malaikat tanpa sayap itu memang ada, mereka hadir di antara kita, mengenakan stetoskop, dan mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan luka sesama tanpa pernah berharap imbalan duniawi.
Kisah dr. Endang ini adalah bukti bahwa ketulusan adalah bahasa universal yang selalu dipahami oleh siapa saja.




