Kepolisian Daerah (Polda) Lampung kembali berduka. Sabtu pagi, 9 Mei 2026, udara dingin di Jalan ZA Pagar Alam mendadak mencekam. Tepat di depan area parkir Toko Kue Yussy Akmal, Labuhan Ratu, sebuah peristiwa tragis merobek ketenangan fajar. Bripka (Anumerta) Arya Supena, seorang anggota Dit Intelkam Polda Lampung, gugur dalam tugas.
Luka lama yang pernah tertoreh 11 tahun silam di Jalan Teuku Umar seolah terbuka kembali. Sejarah besar yang melahirkan satuan elit yakni Tekab 308 kini menemukan kemiripan yang menyayat hati.
Pada 27 Agustus 2015 yang silam, peristiwa serupa mengguncang Lampung. Kala itu Bharada Jefri Saputra anggota Brimobda Lampung, tewas ditembak bandit saat mempertahankan sepeda motornya di depan ATM Jalan Teuku Umar, Kedaton Bandar Lampung.
Tewasnya Jefri ini menjadi titik balik besar, Kapolda Lampung saat itu Brigjen (Purn) Edward Syah Pernong murka. Beliau segera membentuk tim khusus yang kemudian berhasil menggulung para pelaku di Lampung Timur pada 30 Agustus 2015.
Bertepatan dengan keberhasilan itulah yang kemudian diabadikan menjadi nama Tekab 308 satuan antibrandalan yang melegenda.
Terbaru, di tahun 2026, skenario pilu itu terulang. Pada pukul 05.30 WIB, BRIPKA (Anumerta) Arya Supena yang sedang melintas melihat dua pria mencurigakan tengah merusak kunci stang motor. Naluri kepolisiannya bangkit dan langsung menghampiri pelaku. Arya tak bisa membiarkan kejahatan terjadi di depan mata.
Tapi nahas, keberaniannya disambut timah panas oleh pelaku bandit. Tembakan penjahat jalanan ini tepat mengenai kepala Arya, membuatnya tersungkur tak bernyawa. Para bandit jalanan itu kembali menunjukkan kekejian yang tak mengenal batas.
Sama halnya dengan Edward Syah Pernong di masa lalu, Kapolda Lampung saat ini, Irjen Pol Helfi Assegaf, menunjukkan reaksi yang tak kalah keras. Hadir langsung di TKP, sorot matanya menggambarkan keseriusan dan duka mendalam bagi anggotanya.
“Kami tidak memberikan toleransi sedikit pun. Kami akan memberikan tindakan tegas dan terukur kepada para penjahat jalanan ini!” tegas Irjen Pol Helfi Assegaf di lokasi kejadian.
Saat ini, seluruh kekuatan tim khusus Polda Lampung telah dikerahkan. Pengejaran intensif dilakukan hingga ke pelosok-pelosok yang menjadi sarang persembunyian. Semangat angka 308 yang lahir dari darah seorang polisi kembali berkobar.
Bagi para pelaku, hanya ada satu pilihan, menyerahkan diri atau berakhir di ujung laras penegak hukum. Darah Bripka Arya Supena di Jalan ZA Pagar Alam menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan premanisme di Lampung tidak akan pernah surut. Sebab Tekab 308 tidak akan membiarkan anggotanya gugur sia-sia. (Diq).




