Wajah Kota Kotabumi Merana, Tugu Ikonik Dibiarkan Kumuh, Pemkab Alasan “Bokek”

380

LAMPUNG UTARA jejaring09.com – Alih-alih menjadi simbol kebanggaan dan kemegahan daerah, deretan tugu ikonik di Kabupaten Lampung Utara kini justru bertransformasi menjadi monumen keterlantaran. Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan kontras di jantung kota, cat mengelupas, kepungan lumut, hingga rimbunnya rumput liar yang menghiasi wajah kota.

Sejumlah titik sentral seperti Tugu Alamsyah Ratu Perwira Negara (ARPN) yang berada di Kelapa Tujuh kini tampil kumuh. Noda hitam jamur merayap di badan tugu, sementara Tugu Payan Mas terkesan “mati suri”. Air mancur yang seharusnya mempercantik kawasan tersebut tak lagi berfungsi, dan saat malam tiba, area ini tenggelam dalam kegelapan akibat minimnya penerangan.

“Sangat disayangkan, tugu yang seharusnya jadi wajah kota malah terlihat dekil. Kalau malam pencahayaannya kurang, jadi makin suram,” cetus Andrianto, warga Kelapa Tujuh, Senin (20/4/2026).

Kondisi memprihatinkan juga merambat ke Tugu Pengantin di Jalan Jenderal Sudirman. Simbol kemegahan adat Lampung itu kini kusam nampak warna pakaian adat pada patung memudar drastis, dikelilingi rumput liar yang tumbuh subur di area alasnya.

Tak hanya itu, Tugu Canang di Kota Alam pun tampak cacat dengan kondisi fisik patung yang sudah tidak utuh lagi. Ketidakteraturan ini juga terlihat jelas pada Tugu Pembangunan di pertigaan Pasar Dekon dan Tugu Rato di Kelurahan Cempedak yang seolah dibiarkan “menua” tanpa perawatan.

Menanggapi kondisi estetika kota yang berantakan ini, Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) terkesan angkat tangan. Plt Kepala Dinas Perkim, Dirgantara, mengakui bahwa hingga saat ini belum ada tindakan perawatan nyata terhadap tugu-tugu tersebut.

Mirisnya, dari sekian banyak tugu yang rusak, hanya satu yang masuk dalam radar perbaikan tahun ini hanya Tugu Payan Mas.

BACA JUGA:  Menu MBG di Lampung Utara Dikeluhkan, Satgas Segera Lapor ke Badan Gizi Nasional

“Tahun 2026 ini baru akan melakukan perawatan Tugu Payan Mas. Sementara tugu yang lainnya belum direncanakan dikarenakan keterbatasan anggaran,” ujar Dirgantara singkat saat dihubungi via ponsel.

Sikap pemerintah yang berlindung di balik alasan klasik keterbatasan anggaran ini menuai kritik pedas dari pengguna jalan. Rudianto, seorang pengemudi angkutan kota, menyayangkan prioritas pemerintah yang membiarkan ikon daerah terbengkalai bertahun-tahun.

“Patung pengantin itu sudah lama sekali tidak dirawat sejak dibuat. Ini wajah kota, tapi kok terlihat kumuh seperti tidak ada yang mengurus,” ujarnya.

Masyarakat menanti langkah konkrit Pemkab Lampung Utara untuk melakukan revitalisasi menyeluruh, bukan hanya sekadar cat ulang formalitas di satu titik. Jika terus dibiarkan, tugu-tugu sejarah dan budaya ini hanya akan menjadi pajangan usang yang menunggu roboh dimakan waktu. (*).

Facebook Comments