Angka itu terdiri dari 25 lembar uang pacahan 100 ribu. Itu adalah uang bagi hasil dari pencairan salah satu dinas tempat perusahaaan saya melakukan kerjasama di Pemerintahan Konoha.
Angka itu satu-satunya “napas” yang tersisa untuk menyambung hidup hingga hari kemenangan tiba. Tidak ada bonus besar, tidak ada THR tambahan. Hanya angka itu, dan saat ini terhitung enam hari menuju Lebaran.
Sambil menarik napas panjang, Saya melihat ketika seoarang perempuan yang setiap hari mengurus rumah dan anak-anak mencoret-coret buku saku kecilnya. Dan dia berkata kepada saya “Hanya ini yang tersisa” ucapnya seraya menyodorkan dua lembar uang pecahan 50 ribu.
Menurut saya, di sinilah seni bertahan hidup dimulai. Bagi saya, Lebaran bukan soal kemewahan, tapi soal ketenangan. Dengan uang 2,5 juta, prioritas utama adalah memastikan dapur tetap mengepul dan kewajiban tertunaikan.
Kewajiban itu adalah, Zakat dan ini harga mati. Bagian pertama dari uang itu langsung dipisahkan. Meski sedikit, tangan di atas tetap lebih baik. Menu Lebaran Minimalis, tidak ada yang spesial atau berlebihan. Saya dan istri memutuskan untuk membeli daging secukupnya dan memprioritaskan bumbu-bumbu yang bisa diolah sendiri agar lebih hemat.
Untuk pakaian baru mengutamakan untuk tiga orang anak-anak. Bagi saya cukup satu helai Baju Koko sebab didalam lemari masih menyimpan baju tahun lalu yang masih layak. “Yang penting hati yang baru,” ucap sunyi dalam hati sambil menghibur diri dengan senyum manis.
Amplop lebaran atau THR untuk para keponakan? Saya pastikan tidak ada. Bukan tidak bersyukur atas nikmat yang ada. Usaha catering setiap jelang lebaran pasti ada order dan hasilnya sedikit membantu meski laba tidak sebesar harapan.
Saya menyadari satu hal bahwa lebaran dengan 2,5 juta mengajari tentang esensi kecukupan. Saya tidak sibuk memamerkan apa yang kami punya, melainkan mensyukuri apa yang tersisa. Meja makan mungkin nantinya tidak penuh dengan kue-kue mahal, tapi aroma ketupat sederhana tetap membawa hangatnya keluarga.
Uang dinas itu memang hanya “sekadar lewat”, tapi ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menjadi jembatan menuju hari raya, memaksa saya dan istri menjadi manajer keuangan paling handal dalam sekejap, dan mengingatkan bahwa bahagia itu tidak selalu berkorelasi dengan jumlah digit di saldo bank.
Lebaran kali ini mungkin sederhana, tapi rasanya jauh lebih jujur dan bermakna. ” Kekayaan yang hakiki bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, tapi seberapa sedikit kita merasa butuh untuk pamer kepada dunia.”




