Antara Sukur dan Dongkol. Paket MBG di Lampung Utara yang Menciut di Bulan Ramadan. Para Pengawas Kemana?

333

Sinar matahari pagi di Kotabumi khususnya Lampung Utara pada umumnya tak sehangat biasanya. Hari ini, Senin (23/2/2026) mengawali langkah pertama Saya menjalankan aktivitas seperti biasa sebagai wartawan di Kabupaten Lampung Utara pada bulan suci Ramadan 1447 H.

Namun, ini bukan soal karya jurnalistik, ini soal paket Makan Gizi Gratis (MBG) yang menjadi buah bibir di media sosial. Program yang digadang-gadang menjadi penopang gizi anak bangsa ini sedang diuji. Selama Ramadan, pola distribusi MBG berubah, yakni makanan siap saji diganti dengan paket bahan pangan untuk dibawa pulang.

Sayangnya, tas yang berisikan MBG tersebut memicu kekecewaan para orang tua. Isi tas yang nilainya dianggap tak sebanding di posting oleh sejumlah orang tua di media sosial. Salah satu akun (Saya malas menyebutkan nama akuunya) membeberkan isi paketan MBG untuk 3 hari kedepan. Di dalam peketan hanya tampak satu kotak susu merk Indomilk, dua butir telur ayam, satu buah jeruk, tiga potong tahu goreng dan satu potong ayam goreng.

“Ini katanya jatah untuk tiga hari,” ketus akun tersebut.

Keluhan yang merata di Bumi Ragem Tunas Lampung Suara sumbang ini ternyata tidak hanya terdengar di pusat kota Kotabumi. Laporan serupa muncul dari wilayah Bungmayang, .asyarakat menilai ada ketimpangan antara anggaran yang dikucurkan dengan realita barang yang diterima di lapangan. Pola distribusi tiga hari sekali yang dipilih pemerintah daerah dengan alasan efisiensi transportasi justru dianggap sebagai celah “penghematan” yang merugikan siswa.

Dalam hal ini, pihak sekolah di Lampung Utara tampak berada di posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus memastikan paket tersalurkan, di sisi lain, mereka menjadi sasaran pertama protes wali murid. DiHari pertama sekolah di bulan Ramadan seharusnya menjadi momen penuh berkah.

BACA JUGA:  Proyek SPAM Miliaran Rupiah di Abung Surakarta Tidak Berfungsi, Warga Anggap Cuma Jadi Pajangan

Namun, bagi sebagian masyarakat Lampung Utara, paket MBG kali ini justru meninggalkan rasa pahit yang lebih lama dari rasa haus saat berpuasa. Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara khusunya para pengawas SPPG. Masyarakat menanti, apakah akan ada evaluasi mendadak terkait vendor penyedia, ataukah paket minimalis ini akan terus menghiasi meja sahur anak-anak hingga penghujung Ramadan nanti.

Penulis : Sodikin

Facebook Comments