Sejak kartu calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Utara resmi terselip di dompet saya pada tahun 2013 silam, Hari Pers Nasional (HPN) selalu menjadi gaung yang terdengar dari jauh.
Selama 13 tahun, saya hanya menyimak kemeriahannya melalui layar kaca atau cerita dari rekan seprofesi yang turut menghadiri peringatan HPN. Namun, tahun 2026 ini berbeda. Akhirnya, kaki saya ikut melangkah berjalan menuju perayaan para pemburu berita.
Jumat, 6 Februari 2026, perjalanan itu dimulai. Saya bersama 14 rekan lainnya dari keluarga besar PWI Lampung Utara bertolak menuju ” Tanah Jawara” dari Balai Wartawan Effendi Yusuf Kotabumi menuju Provinsi Banten menjadi saksi bahwa saya ikut menghadiri dan turut meramaikan perayaan puncak HPN sekaligus hari jadi yang ke-80 organisasi tempat saya bernaung yakni PWI.
Disepanjang perjalanan dari Lampung Utara, ada rasa hangat yang menyelinap di antara tawa 15 orang pengurus dan anggota di dalam mobil. Kami membawa harapan yang sama yakni merayakan eksistensi profesi yang telah kami tekuni belasan tahun.
Obrolan tentang etika, kenangan liputan lama, hingga masa depan media menjadi obrolan selama perjalanan melintasi Selat Sunda. Namun, pada hari puncak di gelar yang dipusatkan di Halaman Masjid Raya Al-Bantani tepatnya di Alun – Alun Pancaniti Serang – Banten, ada sesuatu yang terasa kurang. Saya tidak melihat di atas panggung utama atau ruang VVIP yang biasanya diisi oleh orang nomor satu di republik ini.
Menurut saya, yang baru pertama kali mengikuti seluruh rangkaian HPN, absennya Presiden dalam puncak HPN 2026 di Banten memunculkan rasa janggal. Dalam sejarah yang saya baca dan saksikan di tahun-tahun sebelumnya, HPN selalu menjadi magnet bagi Presiden dan jajaran pejabat tinggi negara.
Kehadiran mereka biasanya menjadi simbol bahwa pers memang pilar keempat demokrasi yang diakui kedaulatannya. Ntahlah HPN tahun ini suasana terasa sedikit berbeda. Meski sejumlah pejabat negara dan daerah tetap hadir mengobarkan semangat, ketiadaan sosok Presiden seperti menyisakan tanda tanya di tengah perayaan ulang tahun PWI yang ke-80 ini.
Dalam hati saya bertanya, Ada apa HPN kali ini? Apakah ini perubahan tradisi, atau ada kendala agenda? Tapi Entahlah. Meski ada rasa kecewa karena tidak bisa melihat langsung sang Kepala Negara menyapa ribuan wartawan, Tapi tidak mengurangi esensi sebab HPN bagi saya tetaplah tentang silaturahmi di Banten saya bertemu dengan saudara-saudara seprofesi, seperti dari Kalimantan, Papua dan daerah lainnya.
Saya merasa senang karena dimomen indah ini, Saya nelihat ribuan wartawan dari Sabang sampai Merauke berkumpul di Banten dan hal itu membuat saya sadar bahwa kekuatan pers tidak terletak pada siapa yang datang menghadiri seremoninya, melainkan pada soliditas orang-orang di dalamnya.
HPN 2026 menjadi pengingat bagi saya, yang sudah bergabung sejak 2013, bahwa menjadi wartawan adalah soal menjaga integritas profesi jurnalistik dengan atau tidak ada riuh tepuk tangan dihadapan orang nomor satu di Republik ini.
Yang menjadi kebanggan saya di peringatan HPN ini adalah ketika saya menyaksikan langsung Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis naik ke panggung utama untuk menerima penghargaan kebudayaan berupa Tropy Abyakta atas capaian kebudayaan Cangget Bagha masuk dalam nominasi.
Perjalanan pertama saya ke HPN tahun 2026 di Banten mungkin tidak sempurna dengan peringatan tahun-tahun sebelumnya, namun HPN bermaskot Badak Cula Satu ini bagi saya sangat sempurna secara emosional.
Oleh : Sodikin




